Sabtu, 19 Maret 2011

Koalisi, Isi Kuali, atau.....

Hingar bingar kata koalisi kembali terdengar di kalangan elit. Akibat kata-kata itu, ada yang terdepak ada yang retak. Karena kata-kata itu pula, ada yang merapat ada yang tercekat. Apalagi, media terus menggelindingkannya. Tentu saja, bola koalisi semakin panas.

Itu yang diatas sana. Lantas bagaimana yang dibawah? Tidak kalah panasnya. Namun yang pasti bukan karena mantra koalisi. Panasnya kondisi dibawah lebih dipicu oleh persoalan isi kuali (baca: pangan). Ya, petani sedang lesu. Kebijakan impor beras dengan bea masuk 0 persen sebagai pemicu.

Dampaknya lumayan dahsyat. Gara-gara kebijakan itu, harga gabah kering terjun bebas dari Rp 3.400 menjadi Rp 2.600. Padahal, saat ini petani sedang panen raya. Jika sudah demikian, maka isi kuali pak tani bisa terancam. Belum lagi dengan adanya 'salah mangsa'. Lengkap sudah penderitaan pak tani.

Sungguh ironis. Para elit politik justru sibuk bertarung membangun blok koalisi. Blok mana layak dipukul dan kubu mana yang sudah waktunya dirangkul.

Memang, dalam wilayah politik, koalisi adalah sebuah kelaziman. Koalisi dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan atau kabinet dari partai yang memiliki suara di parlemen. Hanya saja, jika kita bercermin secara utuh, sejarah koalisi di negeri ini adalah koalisi yang sakit.

Mengacu pada teori Arend Lijphart, setidaknya terdapat empat teori koalisi yang bisa diterapkan di Indonesia. Pertama, minimal winning coalition dimana prinsip dasarnya adalah maksimalisasi kekuasaan. Dengan cara sebanyak mungkin memperoleh kursi di kabinet dan mengabaikan partai yang tidak perlu untuk diajak berkoalisi.

Kedua, minimum size coalition, dimana partai dengan suara terbanyak akan mencari partai yang lebih kecil untuk sekadar mencapai suara mayoritas. Ketiga, bargaining proposition yakni koalisi dengan jumlah partai paling sedikit untuk memudahkan proses negosiasi.

Terakhir, minimal range coalition dimana dasar dari koalisi ini adalah kedekatan pada kecenderungan ideologis untuk memudahkan partai-partai dalam berkoalisi dan membentuk kabinet.

Kuskridho Ambardi, dalam bukunya yang berjudul 'Mengungkap Politik Kartel (2009)' menjelaskan, pola-pola koalisi yang dibangun di parlemen dan pemerintahan kurang sesuai dengan teori-teori koalisi pada umumnya. Nah, hal itulah yang akhirnya melahirkan politik kartel. Sistem ini digunakan untuk meminimalkan kerugian pihak yang kalah, entah dalam pemilu atau dalam koalisi.

Kartel lebih mengutamakan mekanisme perangkulan (incorporation) dari elite yang memiliki latar belakang ideologi yang berbeda. Dalam politik kartel, dorongan berpartisipasi dalam kabinet dan struktur kepemimpinan di komisi, misalnya, adalah karena kepentingan partai-partai untuk mengamankan kebutuhan finansial bersama.

Tidak salah jika apa yang terjadi saat ini mencerminkan sebuah kepentingan pragmatis yang jauh dari unsur ideologis. Partai oposisi versus partai pemerintah yang sebelumnya begitu sengit berkompetisi di satu hal akan dengan mudah menjadi kooperatif dalam hal lain. Begitu juga sebaiknya.

Intinya, mereka terlibat di pemerintah atau parlemen bukan demi perjuangan program atau ideologi partai, melainkan patut diduga demi mengamankan sumber-sumber finansial.

Menurut buku hasil disertasi ilmu politik dari The Ohio State University ini, gejala kartelisasi parpol telah muncul usai pemilu 1999. Persaingan (terutama isu agama) yang begitu sengit selama masa kampanye mendadak terhenti ketika pemilu berakhir. Kondisi itu semakin nyata dalam pembentukan dua kabinet (periode 1999-2004) yang tak selaras dengan teori koalisi berbasis ideologi maupun koalisi kemenangan-minimal.

Kabinet Persatuan Nasional semasa KH Abdurahman Wahid dan Kabinet Gotong Royong di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri bukan berdasarkan kesamaan ideologi. Karena semua partai bergabung dalam kabinet, maka teori kemenangan-minimal juga gagal menjelaskan tindak-tanduk partai dalam berkoalisi.

Pola interaksi antarpartai pada Pemilu 2004 setali tiga uang. Isu keagamaan tetap jadi isu dominan pada masa kampanye. Namun, persaingan antar partai tetap berakhir dengan cara serupa. Begitu partai-partai meninggalkan gelanggang pemilu, ideologi pun dibuang. Indikasi itu terlihat dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) dibawah SBY-JK. Kabinet tersebut bukan jenis koalisi berbasis ideologi. Mengapa? karena formasi kabinet merupakan campuran antara partai sekuler dan partai Islam.

Teori koalisi kemenangan-minimal juga gagal menjelaskan koalisi di parlemen. Pasca kekalahan Megawati-Hasyim pada pilpres putaran kedua, sebagian besar partai eks-Koalisi Kebangsaan (kecuali PDIP) bergabung dengan pemerintah. Meski PDIP berada di luar pemerintahan, buku ini mencatat, partai berlambang banteng gemuk ini gagal menjadi oposisi. Pasalnya, PDIP bergabung dengan partai-partai lain untuk membentuk kembali kartel demi mendapatkan jatah posisi pimpinan di tingkat komisi di DPR.

Bagaimana dengan koalisi saat ini? Sepertinya tak jauh beda. Karena idealnya, kompetisi antar parpol itu konsisten di berbagai arena politik (pemilu, pemerintahan dan parlemen). Bila suasana kompetisi konsisten di berbagai arena politik akan terdapat tautan elektoral di antara partai-partai sebelum pemilu dan pasca pemilu. Dengan demikian, kaitan antara ideologi, pola koalisi, proses kebijakan dan basis dukungan akan membuat demokrasi jadi lebih bermakna. Tapi, hal itu sepertinya belum terasa.

Jika sudah demikian, maka bersiap-siaplah kita melihat tontonan menarik, yakni se-ekor keledai yang duduk diatas kursi roda dengan sejumlah balutan perban ditubuhnya. Dengan kata lain, keledai ini jatuh lebih dari dua kali di lubang yang sama. Sangat-sangat bodoh, bukan? [yusuf wibisono]


Rubrik Sorotan beritajatim.com - 8 Maret 2011

Senin, 25 Oktober 2010

Tanjung Priok, Luka Lama Tersiram Cuka




INI merupakan kali kedua dalam rentang sejarah. Langit Tanjung Priuk membara, darah berceceran. Sipil dan militer berhadap-hadapan. Kalau saat ini pemicunya adalah makam seorang tokoh agama yang hendak dibongkar. Dulu lebih ekstrim lagi. Rumah ibadah diinjak-injak dan dilecehkan. Mari menghidupkan syaraf ingat kita. Menembus lorong waktu.

Kala itu lipatan kalender menunjukkan angka 1984. Senin, 10 September 1984. Seorang oknum TNI, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa'adah untuk menyita pamflet berbau 'SARA'. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan umat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim.

Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

Rabu, 12 September 1984, Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll.

Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, "Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini".
Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, "Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?" Dijawab oleh massa, "Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !"

Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma' Allah dan Al-Qur'an. Amir Biki berpesan, "Yang merusak bukan teman kita !"

Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara.

Mereka mundur dua langkah, lalu ... astaghfirullah ! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan.

Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.

Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas 'hanya' 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhitung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.

Kini kalender menunjukkan 14 April 2010. Langit Tanjung Priuk memerah, bumi Priuk banjir darah. Padahal luka lama itu belum sepenuhnya sembuh. Luka lama itu kembali tersiram cuka. Perih. [yusuf wibisono]

Jombang, 14 April 2010

Minggu, 24 Oktober 2010

Facegod; Jejaring Sosial untuk Tuhan




SETELAH sukses dengan facebook, tidak ada salahnya Mark Zuckerberg, orang yang pertama kali menciptakan situs jejaring sosial tersebut menciptakan situs baru lagi. Namanya sangat mudah, facegod. Situs pertemanan untuk Tuhan. Kok bisa ?

Situs jejaring sosial facebook bukan hanya merasuk dalam sistem sosial. Namun lebih dari itu. Hubungan dengan Tuhan sekalipun mulai terimbas. Bagaimana tidak, untuk berdoa kepada Tuhan-Nya seseorang kerap menggunakan jejaring itu. Ya, cukup dengan jari kita menari diatas keyboard, muncul sederet tulisan, sekali sentuh, doa kita akan terkirim. Padahal saya yakin, Tuhan tak punya account facebook. Karena tanpa jejaring itu Tuhan sudah tahu doa dan keinginan kita.

Wajar memang, dengan teknologi semuanya menjadi mudah. Untuk sekedar berdoa, tangan kita tidak lagi menengadah keatas, mulut kita tidak lagi komat-kamit merapal mantera. Kepala kita tidak harus menunduk khusuk. Dan kaki kita tidak lagi duduk bersimpuh. Namun bagi saya, hubungan manusia dengan Tuhan tidak bisa disamakan dengan tuts komputer, tidak serupa dengan keypad hand phone, dan tidak bisa disejajarkan dengan kecanggihan Blackberry.

Komunikasi manusia dengan Tuhan adalah hubungan vertikal yang bersifat sakral. Akan tetapi, sering kali saya membaca status di facebook yang isinya berdoa kepada Tuhan. Mulai minta rezeki, minta kesehatan, minta keselamatan, bahkan ada permintaan itu yang dihiasi dengan kutipan ayat suci. Indah dan sah memang. Apalagi, jika doa itu disambut dengan deretan komentar dari orang lain, maka pemilik status itu akan bertepuk dada. Bangga.

Mungkin mereka menganggap jika doa itu disambut dengan deretan komentar akan semakin tinggi tingkat terkabulnya. Omong kosong. Karena, sekali lagi Tuhan tidak punya account facebook. Percuma saja, jika untaian doa yang terangkai indah itu didasari paham ‘Narsisme Religius’. Dalam arti, tujuan kita berdoa hanya ingin agar orang lain tahu bahwa kita adalah manusia yang bertuhan. Kita adalah manusia yang selalu ingat kekuasaan sang pencipta. Ironis. Semoga saja itu hanya asumsi ngawur saya.

Tulisan’iseng’ ini bukan menyalahkan facebook. Karena bukan rahasia lagi, perkembangan teknologi itu selalu punya dampak. Ibarat pisau bermata dua. Satu sisi menguntungkan, satu sisi lagi siap mengancam. Semuanya tergantung kita.

Adalah Mark Zuckerberg, orang yang pertama kali menciptakan situs jejaring sosial ini. Pada 28 Oktober 2003 ia bersama dengan teman kosnya, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes menciptakan situs pertemanan yang dikhususkan untuk mahasiswa Harvard.

Seiring bergulirnya waktu, situs yang awalnya bernama Facemash ini meluas sampai kampus-kampus lain di daerah Boston area, Ivy League, dan Stanford University. Kemudian, situs ini merambah keanggotaannya mulai dari murid SMA hingga mahasiswa. Bahkan saat ini lebih gila lagi, pengguna jejaring ini sudah lintas profesi. Dalam catatan Wikipedia, anggota facebook yang aktif tembus 350 juta.
Situs jejaring sosial ini dioperasikan dan secara privat dimiliki oleh Facebook, Inc. di Cambridge, Massachusetts, USA. Facebook Inc.

Ia memiliki karyawan lebih dari 900 orang dan meraup pendapatan di atas US$ 300 juta. Cukup fantastis. Dan yang pasti, para mahasiswa Harvard itu juga telah merubah cara berdoa kita. Nah, untuk itu mari kita tunggu para alumni Harvard itu menciptakan situs facegod, yakni semacam facebook yang dikhususkan untuk Tuhan. Sehingga deretan doa yang mejeng di status itu berbalas. Maaf. [yusuf wibisono]

Jombang, 16 April 2010

Gerwani, Artis Seksi, Dan Cleopatra



SOELAMI, Soejinah, dan Lestari adalah deretan nama perempuan yang berpikiran progresif. Mereka menjadi tahanan politik orde baru karena aktif dalam Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), organisasi perempuan yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Puluhan tahun mereka tidak punya hak politik. Hak mereka diperkosa oleh penguasa. Bahkan oleh orde baru mereka digambarkan sebagai sosok yang mengerikan.

Julia Perez, Maria Eva, dan Ayu Azhari adalah deretan nama perempuan yang bertubuh seksi. Mereka tidak terlibat dalam gerakan perempuan semacam Gerwani. Hanya karena dianggap gemar mempertontonkan lekuk tubuh seksi, mereka juga terancam ditelanjangi hak politiknya.

Beginilah kalau hidup di negeri tanpa mata angin. Para pemimpinnya kerap saling tabrak karena tak tahu arah. Mereka menentukan arah sesuai dengan kehendak perutnya. Hari ini selatan dikatakan utara, besuknya utara dikatan selatan. Kemarin barat dibilang timur, lusanya timur menjadi barat. Ya, negeri orang-orang bingung.

Sudah tanpa mata angin, negeri ini juga tanpa cahaya. Semuanya gelap. Karena itu, hati-hati jika hidup dinegeri tanpa mata angin. Hak politik bisa hilang sewaktu-waktu. Jika dulu hak politik itu hilang karena seseorang dianggap cacat ideologi. Kali ini lebih gila lagi. Seorang yang dianggap cacat moral bisa dicabut hak politiknya. Benar-benar absurd.

Tentu saja, fenomena itu merupakan sesuatu yang berlebihan. Padahal hak politik merupakan hak yang melekat pada diri manusia semenjak menghirup udara di muka bumi. Setiap orang mempunyai hak untuk memilih dan dipilih. Tidak boleh ada pengingkaran. Semuanya sama.

Sejenak kita melayang ke Mesir untuk melihat kisah Cleopatra. Selain sosok yang cerdas, ratu berparas cantik dari Mesir ini juga menggunakan senjata ‘kewanitaan’ untuk mempertahankan tahta dan pengaruhnya. Ia merupakan ratu cantik mempesona yang bisa mempengaruhi tokoh besar Romawi seperti Julius Caesar dan Mark Anthony.


Awal mula menduduki tahta kerajaan Mesir, Cleopatra berusia 18 tahun. Ia digambarkan sebagai gadis belia yang sangat menggairahkan. Tinggi semampai dengan lekuk tubuh menawan, buah dada yang ranum menggoda, kaki jenjang, pinggul padat berisi, wajah bulat telur, rambut hitam mengkilat, dan kulit halus putih berkilau.


Wajahnya memancarkan gairah dan vitalitas, dengan alis sedikit tebal, mata hitam bersinar, bibir seksi dengan sedikit lekukan menawan di bawah hidung, tampak selalu tersenyum, namun menyimpan misteri ‘liar’ menggoda.


Kecantikan wajah dan tubuh ratu yang punya nama lengkap Cleopatra Selene Philopator ini setidaknya sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan dan politik yang dilakukannya. Dengan semua ‘senjata kewanitaan’ itu ia berhasil mempertahankan tahta dan kejayaan Mesir dari tekanan imperium besar seperti Romawi. Walau akhirnya Mesir runtuh juga di akhir hayatnya. Cleopatra meninggal di usia 39 tahun pada 30 SM (Sebelum Masehi).

Pun demikian, dalam urusan politik pemerintahan, ia dikenal sebagai wanita yang keras, tegas, dan ambisius. Karisma yang terpancar dari dalam dirinya membuat ia mampu memerintah Mesir selama dua puluh tahun lebih dengan berbagai perkembangan yang mengagumkan. Sebagai wanita yang memegang tampuk kekuasaan dan ibu tiga orang anak, Cleopatra menjalani hidup dengan penuh ketegaran.

Bayangkan, seorang perempuan sendirian memerintah sebuah kawasan besar yang cukup lama menjadi ancaman bagi Romawi. Disamping urusan negara, ia tidak meninggalkan tiga bayinya. Setiap hari ia sibuk bekerja. Mulai dengan sidang kabinet terbatas, bertemu para penasihat, memberi persetujuan atas proyek pembangunan saluran air, atau memeriksa pemasukan pajak negara. Belum lagi menemui tamu-tamu dan para duta besar yang datang.


Lantas apa hubungannya dengan Gerwani dan artis seksi? Nah, bisa jadi sosok Gerwani dan artis seksi itu jika dipadukan akan melahirkan semangat Cleopatra. Ini merupakan kaca benggala bagi para artis yang akhir-akhir ini banyak bermimpi menjadi bupati. Artinya, untuk menjadi pemimpin itu bukan hanya bermodal lekuk tubuh yang aduhai. Namun yang tidak kalah penting adalah pola pikir progresif.

Disamping keberanian dalam membebaskan negeri dari ancaman utang serta korupsi. Juga keseriusan dalam membangun perekonomian rakyat. Popularitas yang hanya didukung lewat manipulasi fisik adalah sesuatu yang semu. Sekali lagi, kisah Cleopatra bisa menjadi cerminan bahwa seorang wanita juga mampu membangun peradaban.


Ironisnya, negara merespon fenomena munculnya artis tersebut dengan latah. Dengan reaksioner Menteri Dalam Negeri akan mengeluarkan aturan tambahan yang intinya calon kepala daerah itu harus punya pengalaman organisasi dan tidak cacat moral. Cacat moral yang dimaksud Pak Menteri salah satunya adalah orang tersebut tidak pernah berbuat mesum dan zina. Padahal siapa yang bisa mengukur moral? Tidak jelas ukurannya.

Masih ingat Pemilu Kada (Pemilihan Umum Kepala Daerah) di Kabupaten Pekalongan 2006 lalu? Menjelang pemilihan, foto bugil pasangan calon bupati beredar luas. Masyarakat langsung gempar. Banyak yang memprediksi calon yang foto mesumnya beredar itu akan terjungkal dalam pemilihan. Namun diluar dugaan, justru calon tersebut sanggup memenangkan pertarungan.

Tulisan ini bukan bermaksud membela para artis seksi. Namun lebih pada pembelaan wilayah hak asasi. Sudah seharusnya setiap aturan yang disusun dalam Pemilu kada tidak bertabrakan dengan hak politik warganya. Agar tidak terjadi kemunduran proses demokrasi.

Dari pada masuk ke wilayah yang tidak jelas, lebih baik pemerintah melakukan kerja riil. Yakni memberikan pendidikan politik kepada rakyat. Semisal, memberikan pemahaman bahwasannya memilih pemimpin itu bukan hanya berdasarkan popularitas. Namun ada hal yang lebih penting lagi, yakni melihat program yang diusung si calon tersebut. Bukan lantas membabi buta dengan mencabut hak politik warganya. [yusuf wibisono]

• Tulisan ini dimuat di rubrik sorotan www.beritajatim.com, 19 April 2010

;;Kurusetra Industri::



INI bukan bukan padang Kurusetra, tempat Pandawa dan Kurawa berebut tahta. Juga bukan film laga India, dimana para pemainnya asyik berdendang setelah menendang. Bukan pula tiupan seruling untuk menjinakkan ular kobra. Bergoyang, mendesis, meliuk, hingga mematuk. Namun lebih dari itu. Batam adalah ironi. Batam adalah Kurusetra industri. Semuanya berawal dari "All Indonesia are stupid".

Sungguh ‘istimewa’, hanya dengan empat kata berbahasa Inggris, ribuan buruh Drydock mengamuk. Mereka membakar pabrik, membakar mobil, hingga menganiaya warga India.

Padahal, kata-kata “All Indonesia are stupid" bukanlah mantra sakti yang mampu menghipnotis. Ia hanya rangkaian kata biasa. Namun mengapa rangkaian 21 alphabet itu sanggup menyulut emosi para pekerja? Jawabnya sederhana, karena kata-kata itu lahir dari rahim industrialisasi. Lahir dari proses ketimpangan dan kemiskinan.

Selama ini Batam ibarat surga bagi para pekerja. Semua itu semakin klop dengan tingginya angka pengangguran di negeri ini. Wajah kota yang berbatasan dengan negera tetangga ini merias diri dengan bedak industri.

Sehingga muncul asumsi berangkat ke Batam adalah solusi. Pekerjaan dapat, uang pun tak akan tercekat.

Namun ironis, realitas di lapangan berbicara lain. Kita selalu membayangkan dengan adanya industrialisasi rumah berdinding bambu bisa berubah menjadi rumah beton dalam sekejab. Hanya dengan kata sim salabim. Omong kosong. Karena ini bukan panggung sulap.

Industrialisasi adalah keping mata uang yang bernilai ganda. Ia mampu melahirkan berbagai paradoks, salah satunya adalah perbedaan ekonomi. Kondisi ini sebenarnya sudah tercium tiga tahun yang lalu. Berdasarkan data di pemerintahan propinsi Kepri (Kepulauan Riau), angka kemiskinan dan pengangguran berada diatas nasional.

Dengan rincian, angka tingkat kemiskinan sebesar 21 persen, padahal kemiskinan secara nasional hanya 17,2 persen. Sedangkan angka pengangguran Propinsi Kepri mencapai 10,8 persen sementara secara nasional hanya 9,8 persen. Batam, Tanjung Pinang, dan sejumlah kota lainnya adalah wilayah yang masuk dalam propinsi tersebut.

Nah, dari situlah Batam menjadi ironi. Pada satu sisi ia terus merias wajah kota, namun pada sisi lain kemiskinan terus melanda. Pendek kata, dibalik pesonanya, ternyata Batam mengidap ‘sakit jiwa’.

Kondisi itu semakin kronis ketika para buruh tidak pernah dimanusiakan. Dalam arti, buruh hanya diperlakukan sebagai bawahan saja. Akibatnya, rasa kecewa, terpinggirkan, dan jengkel tersebut menggumpal hingga berubah menjadi bom waktu.

Gayung pun bersambut. Ketika bom itu menuggu pemantiknya, datanglah warga India. Dengan sekali ucap ‘All Indonesia are stupid’ bom waktu itupun meledak. Kerusuhan pecah. Drydock berubah menjadi merah.

Sekitar 20 mobil dibakar massa yang marah. Kantor dan gudang barang pun tak luput dari aksi kemarahan mereka. Sedikitnya 40 tenaga kerja asing terpaksa dievakuasi melalui jalur laut. Mereka menjadi sasaran amuk ribuan karyawan galangan kapal PT Naninda, Batam.

Ternyata,industrialisasi belum sepenuhnya menjadi kata sakti dalam menjawab kesenjangan dan kemiskinan. Justru sebaliknya, industrialisasi berpengaruh negatif terhadap keadilan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Ketika lahir, Batam didesign sebagai kawasan industri, namun dalam perkembangannya ia menjelma menjadi Kurusetra industri. Padang luas pembantaian ekonomi.[yusuf wibisono]

*Rubrik Sorotan www.beritajatim.com 24 April 2010

Puasa dan ‘Keong’ Sosial



Antara puasa Ramadan dan keong jelas tidak ada ada kaitannya. Namun saya sengaja memasang judul itu. Bukannya latah dengan fenomena ‘Keong Racun’ yang menyebar akhir-akhir ini. Namun keong yang saya maksud adalah sebuah perumpamaan dari cangkang yang melindungi hewan avertebrata tersebut. Dengan cangkang, se-ekor keong akan terlindungi dari cuaca dan ancaman. Sehingga mampu membangun daya hidup.

Begitu pula dengan manusia. Ia juga membutuhkan cangkang. Namun yang dibutuhkan oleh manusia adalah cangkang (baca, keong) sosial. Jika cangkang sosial itu tumbuh, maka kekuatan yang bisa menggerakkan perubahan akan terwujud. Akan tercipta sebuah kondisi saling toleransi, yang kuat melindungi yang lemah. Ya, bergandeng tangan dalam solidaritas sosial.

Lantas apa hubungannya dengan puasa Ramadan? Menunaikan ibadah puasa sebenarnya memiliki makna yang sangat luas. Tidak cukup kiranya hanya menafsirkan ibadah puasa sebagai kegiatan ritual semata. Lebih dari itu.

Selama ini seringkali kita memaknai puasa dalam bingkai relatif sempit. Dimana puasa hanya dimaknai secara vertikal. Dalam arti, sebuah garis lurus yang ditarik keatas, yakni hubungan kita dengan sang Pencipta yang telah menjanjikan pahala. Dalam tulisan ini tidak akan membahas panjang lebar puasa dalam artian itu. Sudah terlalu banyak yang mengupasnya.

Satu hal tidak kalah penting dalam ibadah puasa adalah makna horizontal yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, dalam ibadah puasa juga terdapat hubungan kita dengan “kita” yang lainnya. Jadi ada dua kutub dalam ibadah puasa yang selalu berjalan seiring. Dua hal itu dalam ajaran Islam kerap disebut Habluminallah dan Habluminannas.

Upaya yang dilakukan orang berpuasa adalah menahan lapar dan haus sejak fajar menyingsing hingga terbenamnya matahari di ufuk barat. Sedangkan sebelum bulan Ramadan berakhir, kita juga diwajibakan untuk membayar zakat. Hal itu sebenarnya sebagai alarm agar kita selalu ingat akan penderitaan orang lain. Merasakan lapar dan haus sayogyanya memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan kaum papa. Sebab, pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam. Sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir.

Ironisnya, tidak jarang kita berperilaku kurang etis dengan mengatas namakan puasa. Perilaku itu nyata terlihat semisal dengan melambungnya tingkat konsumsi masyarakat pada saat bulan Ramadan. Pendek kata, kita hanya menjadikan waktu berbuka dan sahur sebagai ajang ‘balas dendam’ setelah ‘kelaparan’ sehari penuh.

Padahal, tidak menutup kemungkinan pada saat yang sama, ada jutaan saudara kita yang benar-benar kelaparan. Perut mereka keroncongan bukan saat bulan puasa saja, tetapi juga sebelumnya dan bahkan mungkin juga sesudahnya. Sedangkan kita, saat malam tiba, asyik bersantap dibawah panji konsumerisme. Atau lebih ekstrim lagi, puasa hanya sekedar berubahnya jadwal makan.

Oleh sebab itu, sudah seharusnya kedatangan bulan Ramadan ini mampu menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas sosial kita kepada kaum dhuafa (kaum lemah) dan kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Apalagi, bangsa ini tengah menghadapi realitas tingginya angka kemiskinan, tak terkecuali di Jombang.
Dalam sebuah kesempatan, bupati Jombang Suyanto pernah mengungkapkan, di kabupaten Jombang masih ada sekitar 72 ribu KK (Kepala Keluarga) yang masuk dalam kategori miskin. Dari jumlah itu ada sebanyak 9.800 rumah tangga tidak layak huni. Kemudian, 1.900 KK yang masuk kategori very poor (sangat miskin). Tidak cukup sampai disitu, bupati juga menyebut bahwa masih ada lagi 32 Ribu KK yang masuk dalam kategori miskin produktif. Dalam arti, meski miskin, mereka masih mampu mengakses pekerjaan.

Artinya, upaya untuk menumbuhkan solidaritas sosial harus terus dilakukan mengingat masih tingginya angka kemiskinan itu. Sebenarnya, tidak terbatas pada bulan Ramadan saja, namun bulan suci ini hanya sebagai gerbang untuk menumbuh kembangkan solidaritas tersebut. Nah, jika sudah demikian, maka ibadah puasa bukan hanya mengejar kesalehan pribadi namun juga berjalan seirama dengan kesalehan sosial. Nyatalah kemudian bahwa kita berpuasa bukan semata linear urusan vertikal transendental, tapi juga horisontal sosial.

Atau, meminjam istilahnya Abdul Munir Mulkhan, substansi puasa ialah pengendalian diri baik secara fisik maupun spiritual dengan maksud pengembangan fungsi sosial bagi kepentingan orang banyak yang lebih membutuhkan. Selamat berpuasa. [Yusuf Wibisono]

*Tulisan ini dimuat di Harian Radar Mojokerto (Jawa Pos Group), Sabtu (28/8/2010) di rubrik Kalam Ramadan

Kamis, 21 Oktober 2010

Ponari Putra Petir


SEPEKAN terakhir ini ada fenomena menarik yang muncul dari kota santri Jombang. Yakni, seorang bocah yang masih duduk di kelas III SD.

Bocah yang tinggal di Dusun Kedungsari Desa Balongsari Kecamatan Megaluh ini sejak kecil hidup dalam himpitan kemiskinan. Ia adalah Muhammad Ponari.

Ia mampu menjadi magnet bagi orang yang menderita penyakit. Mereka yang datang rata-rata percaya bahwa penyakitnya akan berangsur sembuh usai meminum air yang sudah dicelupkan batu lonjong berwarna coklat yang katanya bertuah milik bocah tersebut.

Tak pelak, setiap hari rumah milik keluarga Ponari yang terbuat dari bambu dan berlantai tanah selalu dikerubuti massa. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Lumrah memang. Karena dalam memberikan pengobatan, anak pasangan Komsin dan Mukaromah ini tidak menarik bayaran. Ia hanya menyediakan kotak amal jika ada yang ingin memberikan ucapan terima kasih, jumlahnya pun tidak boleh lebih dari Rp 15 ribu.

Pro–kontra seputar Ponari pun bermunculan. Para ulama di Jombang khawatir cara pengobatan Ponari bisa menyeret kearah syirik. Lain lagi dengan kaca mata para dokter, mereka melihat cara pengobatan bocah yang masih lugu itu tidak ilmiah. Sedangkan kelompok paranormal mengigau bahwa Ponari adalah titisan Ki Ageng Selo, pendekar penjinak petir.

Terlepas dari itu semua, seharusnya kita lebih peka terhadap sesuatu yang bisa diraba dengan mata telanjang. Satu hal yang membuat kening kita berkerut, rata-rata yang datang ke Dusun Kedungsari dan berharap kesembuhan dari Ponari adalah mereka yang garis ekonominya menengah kebawah.

Selain itu, mereka juga sudah frustasi dengan pengobatan medis. Singkat kata, rakyat miskin sudah tidak mampu lagi merogoh kantung karena mahalnya biaya dokter dan mahalnya harga obat. Alhasil, ditengah kondisi tersebut munculah sosok Ponari dengan batu 'saktinya'.

Tak ayal, kehadirannya ibarat oase yang berada di tengah padang pasir. Puluhan ribu orang langsung menyemut menantikan tetesan air 'sakti'. Ponari pun menjadi magnet bagi mereka.

Memang, biaya untuk berobat kita saat ini terus meroket. Lebih ironis lagi, sudah mahal jumlah dokter juga sangat terbatas. Tenaga medis ini hanya ada di wilayah kecamatan. Artinya, ribuan orang yang tersebar di area satu kecamatan hanya dilayani oleh satu orang dokter. Bagaimana bisa rakyat miskin yang hidup terpencil mendapat pelayanan dari seorang dokter secara cepat dan intensif ?

Jawabannya dapat ditebak, mereka harus siap kehilangan hak kesehatannya. Dan pada akhirnya, penduduk miskin tidak lagi ada sandaran untuk menikmati hidup sehat. Nah, jika sudah demikian, apakah pembangunan sektor kesehatan sudah pro rakyat?

Jika kita mau jujur, berbicara masalah kesehatan yang pro rakyat tidak bisa hanya dinilai dari selembar kartu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin) dan menjamurnya Puskesmas. Tetapi juga harus memikirkan akses jalan yang rusak dan tidak layak untuk dilewati. Apagunanya kita punya ribuan rumah sakit dengan peralatan serba canggih dan biayanya murah, namun untuk menuju tempat tersebut sulit ditempuh.

Sangat naif jika hak rakyat untuk menikmati hidup sehat hanya direalisasikan dengan selembar kartu Jamkesmas. Sebuah kebijakan pragmatis. Sudah selayaknya kita belajar dari negerinya Fidel Castro, Kuba. Pembangunan sektor kesehatan di negeri penghasil tebu ini lebih santun. Mereka memberlakukan medicos familiars atau dokter keluarga. Artinya, satu orang dokter bertanggungjawab atas satu kampung. Setiap hari para dokter ini berkeliling untuk memantau kesehatan warganya. Sehingga setiap ada keluhan dari masyarakat terkait kesehatan selalu terpantau.

Munculnya fenomena Ponari dengan batu 'saktinya' minimal harus menjadi kaca benggala atas pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah selama ini. Masih segar dalam ingatan kita, gara-gara berdesakan untuk mendapat kesembuhan dari dukun cilik itu, dua orang manusia meregang nyawa. Sekali lagi, ini adalah cambuk bagi sistem kesehatan yang tidak pro rakyat. Atau kita harus menunggu Ponari-Ponari lainnya dengan korban yang lebih besar lagi? Semoga. (yusuf wibisono)

Jombang, 17 Februari 2009